Kami adalah Bangsa Indonesia
Saat jepang mulai datang ke indonesia,kami (bangsa indonesia) saat itu yang sedang sengsara karna kejam nya pemerintahan Belanda .Kami yang sering ditindas,kelaparan dan sangat menderita atas kejamnya pemerintah Belanda,merasa sangat gembira dan seakan ada yang menjulurkan tangan memberi bantuan kepada kami.
Kami (bangsa Indonesia),sangat antusias dan berbondong-bondong menyambut pemerintah Jepang.Mereka terlihat sangat gagah,tegas dan berwibawa di hadapan kami.Banyak sekali anak bangsa kami yang bertanya"siapa mereka?",lalu dengan sangat percaya diri orang tua dari bangsa ini menjawab"Mereka adalah pemerintah Jepang,yang akan menyelamatkan bangsa kita".Itulah jawaban orangtua kami yang di iringi dengan senyum ria.
Teriakan penyambutan menggema di mana-mana,mereklah sekarang yang diagungkan.Terlebih lagi ketika pemerintah Jepang mulai membentuk organisasi-organisasi yang bertujuan mensejahterakan indonesia,seperti gerakan 3A yaitu Nippon cahay Asia,Nippon pelindung Asia,dan Nippon pemimpin Asia.Bukannya mensejahterakan kami sebagai rakyat indonesia seperti yang mereka janjikan,akan melindungi kami,menjadi pemimpin kami dan menjadi cahaya kami,tetapi mereka malah sebaliknya.Pemerintah Jepang semakin hari malah semakin kejam,seluruh hasil pertanian kami habis di sita mereka,banyak pula lahan pertanian kami yang terbengkalai karena semuanya difokuskan untuk ekonomi dan industri perang.Akibatnya,kami mulai kelaparan,tak bisa makan-makanan yang layak,bahkan kita dipaksa memakan hewan yang jijik seperti bekicot,keladi atau paling tidak kita hanya makan umbi-umbian.Kami pun semakin miskin karna mata pencaharian kami sebagai petani mereka rampas.
Hanya berpakaian compang-camping dan paling bagus mungkin kami hanya memakai karung goni.kami sangat menderita dan menyesal atas antusiasnya kami dahulu terhadap "NIPPON",kesengsaraan yang kami rasakan saat ini lebih buruk di bandingkan kesengsaraan yang kami rasakan saat pemerintahan Belanda dulu.Romusha(kerja paksa) yang dilakukan tentara jepang kepada kami rakyat Indonesia .pembuatan jalan,benteng ,lapangan terbang dan jembatan,semua itu hanya untuk kepentingan mereka.
Dipekerjakan dengan sangat kejam,diperlakukan dengan tidak manusiawi sehingga banyak yang meninggal karna kami kelaparan dan di siksa tanpa di kasihani sedikit pun.Bukan hanya dipekerjakn secara paksa,para wanita pun dijadikan korban.pemerintah jepang merekrut para wanita yang di janjikan sebagai guru atau perawat,namun kenyataanya para wanita hanya dipekerjakan sebagai jugun ianfu(wanita penghibur)untuk memuaskan nafsu para prajurit jepang yang sedang bertempur di medan perang.
Tidak seperti Belanda yang membedakam kami dengan kelas sosial.Jepang hanya membedakan kami sebagai "saudara tua" yaitu jepang dan "saudara muda"yaitu Indonesia yang katanya kita bisa mewujudkan cita-cita bersama karna kita saudara.juga mereka pun membuat propaganda yaitu"Asia untuk bangsa Asia",tapi bukannya kami sebagai bangsa indonesia terlihat lebih baik di mata Asia,malahan kita hanya semakin di bodohi dan hanya di jadikan budak.
Dalam bidang pendidikan memang kami tidak dibedakan juga atas kelas sosial,karna dulu saat pemerintahan Belanda hanya kalangan atas saja yang bisa mengenyam pendidikan.tapi,semua pendidikan itu hanya bertujuan untuk kepentingan perang agar memenangkan kemenangan jepang pada perang.Kami juga dipaksa untuk hormat kepada kaisar jepang yaitu Tenno Heikka yang di yakini keturunan dewa matahari .Ingin menentang,namun tak punya daya untuk melawan tentara jepang karna mereka terkenal sangat kejam.
Tapi dengan rasa semangat Nasionalisme,kami bangsa Indonesia tak ingin di injak-injak lagi dan di remehkan lagi.juga semangat golongan muda yang besar.Kami bangsa Indonesia bisa bebas dari mereka (Jepang).
Jadi kita sebagai golongan muda dan penerus bangsa,harus terus berjiwa nasionalisme dan menghargai perjuangan rakyat bangsa indonesia terdahulu.Tanpa mereka,mungkin kita tidak bisa seperti sekarang hidup tentram.Lalu bayangkan bilamana kita masih tetap hidup di jaman itu.Betapa susahnya kita.
Nama : Zahra Ayu Ariska
Comments
Post a Comment