Perjalananku di Zaman Kemerdekaan

Hari ini aku masih berjalan. Lagi-lagi jalan kaki. Aku berjalan seorang diri, menuju sebuah kota tempat keluargaku menanti. Aku berjalan sudah setengah jam. Demi menghemat beberapa sen kupikir. Tapi ah, lelah ini aku yakin akan hilang ketika aku bertemu dengan keluargaku.

Jalanan agak lengang. Tumben sekali. Apakah ada sesuatu? Aku berjalan semakin cepat dengan sesekali melihat jam tangan. Aku heran bukan kepalang, hari ini padahal hari Jum'at. Masih pagi pula, kenapa kota menjadi begitu sepi begini. Semua orang tak satupun menunjukkan batang hidungnya. Aneh kupikir. Apakah resesi dunia sudah menimbulkan efek seperti ini?
Matahari sudah mulai menunjukan kuasanya. Aku mulai berpeluh.

Punggungku sudah gatal rasanya oleh keringat. Baju yang baru kubeli dari Glodok ini ternyata tak senyaman yang Koh Samin katakan. Ternyata tak lebih dari karung goni rasanya baju ini kalau sudah kupakai.
Ah, gerah sekali rasanya, dan perutku sudah keroncongan. Kebetulan sekali aku melewati rumah makan yang begitu sederhana, mungkin 2 sen saja cukup untuk mengisi perutku yang sudah kehabisan cadangan makanan ini.

Segelas kopi panas dan semangkuk soto mengisi perutku pelan-pelan. Sayup-sayup kudengar alunan melodi-melodi melayu di radio. Benda besi kecil ini selalu menarik perhatianku. Suaranya yang gemerisik, suaranya hilang muncul tenggelam memberikan sensasi tersendiri. Ayahku pernah membelikan sebuah radio, tapi sayang, ia meninggal lebih cepat. Takdir Kupikir. Beberapa dokar melaju cepat menuju arah Manggarai. Tentara Jepang masih bersiaga seperti biasa di perempatan jalan. Tapi, kenapa hanya sedikit ya?
Aku melanjutkan perjalanan ke arah Manggarai. Mungkin aku bisa tahu ada apa di sana, pikirku. Sial, matahari semakin panas dan bajuku ini semakin lengket saja. Udara bulan Agustus yang memanas ini membuat tengkukku terbakar.
Sampai di Gambir, aku memutuskan menggunakan kereta ke Bogor. Cuaca yang panas membuatku menyerah. Dengan uang yang hanya sedikit ini aku putuskan naik kereta. Pilihannya hanya dua, jalan kaki sampai kepalamu membesar dan meledak atau naik kereta pengap namun ada obat yang bernama es cincau. Aku pilih yang kedua.

Suasana dalam kereta sangat pengap, berisik dan bau tak karu-karuan. Para pedagang hilir mudik mencari pelanggan. Tukang tahu, jajanan gula, sayur, hilir mudik. Tak kujumpai juga tukang cincau itu.  Mataku mengarah ke luar jendela. Jakarta begitu membosankan, pikirku. Sejak namanya berubah dari Batavia menjadi Jakarta, kota ini menjadi semakin ramai, juga semakin lusuh. Pasca pendudukan Jepang sangat mempengaruhi keadaan ini.
***
Bogor, tidak terasa aku telah sampai di kota ku. Aku perlu berjalan sedikit ke arah Selatan untuk menemui keluargaku. Berjalan di Bogor tak pernah kulihat sesepi ini. banyak orang yang kulihat berpakaian seperti pemuda yang kutemui di kereta tadi. Aku masih bingung, ada apa dengan hari ini?
Aku akhirnya sampai di rumah keluargaku. Rumahnya kosong, tak ada orang. Aku terus memperhatikan ke dalam, mungkin ada gerakan atau apalah itu. Nihil, tak ada siapa-siapa. Aku putus asa. Aku putuskan untuk sholat dulu, aku kelelahan. Aku berjalan sedikit keluar gang, masuk jalan utama dan ditabrak oleh seseorang yang berteriak.

“Merdeka!!! Merdeka!!!”

“Merdeka apanya, saya tertabrak begini. Memang kapan kita merdeka?” aku menggerutu.

“Kamu pasti antek Jepang atau Belanda itu, ya? Kita sudah merdeka, baru saja Soekarno menyatakannya!”

“Masa bodoh, saya tak peduli” kekesalan karena tidak berhasil bertemu dan kelelahan terakumulasikan.

“Sebuah bogem mentah mendarat ke wajahku. Disusul pukulan berikutnya, aku ambruk, berdarah, setelah sekian lama tidak melihat darah. Mungkin yang pertama di hari kemerdekaan ini.

Created by:Cantika

Comments