Masa penjajahan jepang
Pemerintahan Jepang saat itu mencetus kebijakan tenaga kerja romusha. Romusha atau biasa di sebut kerja rodi/kerja paksa. Pengerahan romusha menjadi sebuah keharusan, bahkan paksaan. Hal itu membuat rakyat menjadi sengsara, tanpa diberi makan dan minum. Bahkan, banyak dari mereka yang tidak kembali lagi ke kampung halamannya karena sudah meninggal dunia.
Pada zaman penjajahan dulu banyak sekali teriak tangis ketakutan, darah dan suara tembakan, bahkan melihat saudara sendiri dibunuh mungkin adalah sesuatu yang sangat biasa kala itu.
Rela hidup dihutan-hutan, rela menahan lapar, bahkan siap dengan jutaan peluru yang kapan saja bisa merenggut nyawanya.
Pendidikan pun pada saat itu sangat terbatas, hanya orang-orang kalangan atas saja yang bisa bersekolah. Dan pada zaman itu juga perempuan dilarang bersekolah, bahwasannya perempuan hanya bisa didapur saja, untuk memasak dan membuat makan saja.
Pada zaman itu pula perempuan Indonesia dijadikan sebagai pelayan hawa nafsu bangsa Jepang. Dan perempuan Indonesia juga dikerja paksakan sampai keluar negri. Semua dipaksa bekerja sepanjang hari, tanpa digaji dan pasilitas hidup yang layak.
Tidak sedikit orang yang akhirnya lebih memilih berkhianat pada bangsanya dengan lebih memilih menjadi antek-antek kompeni. Itu semua karena tidak sedikit manusia yang lebih memilih kenyamanan, dan menikmati hidup dengan nyaman.
Bagi mereka mati di medan laga jauh lebih terhormat daripada hidup dalam kedudukan dan tumpukan harta namun harus menjadi boneka penjajah yang harus selalu siap jika disuruh membunuh saudara-saudaranya sekalipun.
Sejak saat itu kami menjadi sengsara, kami kelaparan, kami kehausan. Tentara jepang yang waktu itu menjajikan akan melindungi kami justru malah membohongi kami. Bahkan, banyak dari mereka yang meninggal dunia karena kelaparan.
Tina indriyani
Comments
Post a Comment