Cerita Masa Penjajahan di tahun 1945
saya terbiasa menjadi boneka kecil bagi Jepang. Saya dibawa dari keluarga saya, dimandikan, dan dipakaikan baju bagus. Meski kecil, namun masih ingat benar di pikiran saya bagaimana tingkah- tingkah mereka terhadap orang – orang kampung, termasuk bapak – ibu saya. Dulu, saya masih kecil, bahkan belum mampu ikut memperjuangkan kemerdekaan.
mereka adalah orang – orang paling jahat yang pernah saya lihat. Saya tidak terlalu ingat tahun berapa, yang jelas Jepang baru saja datang ke Indonesia kemudian menerapkan penjajahan yang saya kira lebih kejam daripada penjajahan Belanda. jalanan di daerah memang masih berupa hutan – hutan, hanya dua tiga perkampungan penduduk yang ada. Sisanya, berupa jalanan yang masih terjal sekali namun cukup dilewati semacam truk – truk container milik Jepang. Bahkan ketika mereka datang bersama kendaraan – kendaraan mereka yang besar, kami hanya Bisa berlari masuk kedalam rumah atau bersembunyi dibawah jalanan yang sengaja dilubangi untuk tempat persembunyian.
Sebelumnya, kami sirami jalanan rumah setiap pukul 4 sore, agar jalanan tidak berdebu, lalu kami sembunyi. Bagi kami, kedatangan jepang dengan sirine – sirinenya yang mengaum di siang, sore ataupun malam hari, bagaikan kiamat. Kami sangat ketakutan, tak satupun dari keluarga saya yang berani keluar saat mereka berkeliling kampung, Hal ini rupanya identik dengan fakta – fakta yang tertulis dalam buku sejarah nasional Indonesia bahwa terdapat lubang – lubang kecil di jalanan daerah - daerah bumi pertiwi sebagai tempat persembunyian padi ataupun bangsa Indonesia yang sedang terjebak ketika para penjajah sedang berkeliling untuk menjarah .
Ya, saat mereka berkeliling desa, orang – orang desa bersembunyi, takut, dan tak berani melihat sedikitpun terhadap apa yang dilakukan oleh para penjajah itu. Ibu saya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, dan saya mencoba memberanikan diri untuk melihat mereka dibalik jendela.
Di masa yang sama, pendudukan Jepang mengundang reaksi yang luar biasa dari rakyat. Bahkan disaat romusha masih digalakkan, rakyat cenderung sering mendapat penderitaan. Beruntung para elit yang berada di pusat – pusat perjuangan rakyat seperti di daerah Jakarta, kemudian melakukan berbagai perundingan dengan pihak Jepang meski masih mengalami jalan buntu.
Di daerah – daerah yang jauh dari pusat perjuangan, penjajahan pun tak kalah hebatnya. Dari segi konsumsi, kesehatan, hingga upah, tak pernah sekalipun Jepang berbaik hati kepada rakyat. Konsumsi mereka batasi atau tidak ada sama sekali, kesehatan umumnya selalu mendekati kematian, dan upah, tidak akan pernah ada dalam agenda Jepang. "Dulu saat romusha, orang – orang di dekat rumah saya itu memakai pakaian dari karung goni, makan dengan sisa – sisa nasi lalu dijadikan ketan lalu diberi garam. Penduduk di sekitar saya tak punya uang sepeser pun, jadi hidup hanya untuk makan saat itu.
Karya : Rosita
Comments
Post a Comment